Selasa, 28 Mei 2013

Makalah Konseling pada Ibu Nifas



Kata Pengantar

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Komunikasi Konseling pada Ibu Nifas. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Konseling.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Surakarta,      Mei 2013


Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Di negara maju maupun negara berkembang, perhatian utama bagi ibu dan bayi terlalu banyak tertuju pada masa kehamilan dan persalinan, sementara keadaan yang sebenarnya justru merupakan kebalikannya, oleh karena risiko kesakitan dan kematian baca selengkapnya ibu serta bayi lebih sering terjadi pada masa pasca persalinan. Keadaan ini terutama disebabkan oleh konsekuensi ekonomi, di samping ketidak tersediaan pelayanan atau rendahnya peranan fasilitas kesehatan dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang cukup berkualitas. Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan juga menyebabkan rendahnya keberhasilan promosi kesehatan dan deteksi dini serta penatalaksanaan yang adekuat terhadap masalah dan penyakit yang timbul pada masa pascapersalinan. Oleh karena itu, pelayanan pascapersalianan harus terselenggara pada masa nifas atau puerperium untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi, serta pelayanan pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian masa nifas?
2.      Bagaimana tahapan dalam masa nifas?
3.      Apa tujuan dari asuhan masa nifas?
4.      Bagaimana terjadinya proses perubahan pada organ reproduksi ibu masa nifas?
5.      Adaptasi psikologis seorang ibu dalam masa nifas?
6.      Aspek-aspek klinis masa nifas?
7.      Apa saja kebijakan program nasional masa nifas?
8.      Apa tujuan dari kunjungan masa nifas?
9.      Bagaimana cara perawatan masa nifas?
10.  Bagaimana peran dan tanggung jawab bidan dalam memberikan asuhan pada ibu nifas?
11.  Asuhan apa saja yang termasuk ke lanjutan masa nifas dirumah?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan pengertian masa nifas
2.      Menjelaskan tahap-tahap masa nifas
3.      Menjelaskan tujuan asuhan masa nifas
4.      Menjelaskan perubahan organ reproduksi pada masa nifas
5.      Menjelaskan adaptasi psikologis masa nifas
6.      Menjelaskan aspek-aspek klinis masa nifas
7.      Mengetahui kebijakan program nasional masa nifas
8.      Menjelaskan tujuan kunjungan masa nifas
9.      Menjelaskan perawatan masa nifas
10.  Menjelaskan peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas
11.  Menjelaskan asuhan lanjutan masa nifas di rumah
1.4  Manfaat Penulisan
1.      Mahasiswa mampu menjelakan pengertian dari masa nifas
2.      Mahasiswa mampu menjelaskan tahap-tahap masa nifas
3.      Mahasiswa mampu menjelaskan tujuan dari asuhan masa nifas
4.      Mahasiswa mampu menjelaskan perubahan organ reproduksi pada masa nifas
5.      Mahasiswa mampu menjelaskan adaptasi psikologis yang dialami ibu masa nifas
6.      Mahasiswa mampu menjelaskan aspek-aspek klinis dari masa nifas
7.      Mahasiswa mampu mengetahui kebijakan program nasional masa nifas
8.      Mahasiswa mampu menjelaskan tujuan kunjungan masa nifas
9.      Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai perawatan masa nifas
10.  Mahasiswa mampu menjelaskan peran dan tanggungjawab bidan dalam masa nifas
11.  Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan lanjutan masa nifas di rumah






BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Masa Nifas
1.      Masa nifas merupakan masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali seperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 – 8 minggu atau dalam agama islam disebut 40 hari.(mochtar R, 1998 )
2.      Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan. (Pusdiknakes, 2003:003).
3.      Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).
4.      Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
5.      Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).
2.2  Tahap-tahap masa Nifas
Masa nifas terbagi menjadi 3 tahapan yaitu :
1.      Puerpurium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan.
2.      Puerperium intermedial yaitu suatu masa dimana kepulihan menyeluruh organ-organ reproduksi yang lamanya 6 – 8 minggu.
3.      Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan sehat sempurna baik selama hamil atau sempurna berminggu – minggu, berbulan – bulan atau tahunan, terutama bagi ibu hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi. (Mochtar R, 1998).
2.3  Tujuan Asuhan Masa Nifas
Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas adalah
1.      Untuk mempercepat involusi uterus ( rahim )
2.      Untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologisnya.
3.      Melaksanakan skrining yang komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
4.      Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayisehari-hari.
5.      Memberikan pelayanan KB.
6.      Mendapatkan kesehatan emosi.
2.4  Perubahan Organ Reproduksi Pada Masa Nifas (Involusi Traktus Genetalis)
1.      Corpus uterus
Setelah plasenta lahir, uterus berangsur – angsur menjadi kecil sampai akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi
a.       Bayi lahir : Setinggi pusat (1000 gr)
b.      Uri lahir: 2 jari di bawah pusat – 750 gr
c.       1 minggu: Pertengahan pusat sympisis – 500 gr
d.      2 minggu: Tak teraba diatas sympisis – 350 gr
e.       6 minggu: Bertambah kecil – 50 gr
f.       8 minggu: Sebesar normal – 30 gr
2.      Endometrium
Perubahan–perubahan endometrium ialah timbulnya trombosis degenerasi dan nekrosis di tempat inplantasi plasenta.
a.       Hari pertama : endometrium setebal 2-5 mm dengan permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin
b.      Hari ke dua : Permukaan mulai rata akibat lepasnya sel – sel dibagian yang mengalami degenerasi.
3.      Involusi tempat plasenta
Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam cavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, penonjolan tersebut dengan diameter 7,5 cm, sesudah 2 minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan 6 minggu telah mencapai 24 mm.
4.      Perubahan pada pembuluh darah uterus
Pada saat hamil arteri dan vena yang mengantar darah dari dan ke uterus khususnya ditempat implantasi plasenta menjadi besar setelah post partum otot – otot berkontraksi, pembuluh – pembuluh darah pada uterus akan terjepit, proses ini akan menghentikan darah setelah plasenta lahir.
5.      Perubahan servix
Segera setelah post partum, servix agak menganga seperti corong, karena corpus uteri yang mengadakan kontraksi. Sedangkan servix tidak berkontraksi, sehingga perbatasan antara corpus dan servix uteri berbentuk seperti cincin. Warna servix merah kehitam – hitaman karena pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 2 – 3 jari saja dan setelah 1 minggu hanya dapat dimasukan 1 jari ke dalam cavum uteri.
6.      Vagina dan pintu keluar panggul
Vagina dan pintu keluar panggul membentuk lorong berdinding lunak dan luas yang ukurannya secara perlahan mengecil. Pada minggu ke – 3 post partum, hymen muncul beberapa jaringan kecil dan menjadi corunculac mirtiformis.
7.      Perubahan di peritoneum dan dinding abdomen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus, setelah janin lahir berangsur-angsur ciut kembali. Ligamentum latum dan rotundum lebih kendor dari pada kondisi sebelum hamil. (Mochtar, 1998).
2.5  Adaptasi Psikologis Masa Nifas
1.      Masa Taking In ( 1-2 hari post partum )
a.       Ibu bersifat pasif dan berorientasi pada diri sendiri
b.      Tingkat ketergantungan tinggi
c.       Kebutuhan nutrisi dan istirahat tinggi
d.      Ibu akan mengingat dan mengulang-ulang cerita tentang pengalamannya melahirkan
2.      Masa Taking Hold ( 3-4 hari post partum)
a.       Ibu khawatir akan kemampuannya merawat bayi
b.      Lebih fokus pada perubahan fungsi- fungsi tubuh, seperti eliminasi dan daya tahan tubuh
c.       Ibu berusaha keras untuk menguasai keterampilan merawat bayi secara mandiri
3.      Masa Letting Go ( minggu ke 3-4 post partum )
a.       Perhatian pada bayi sebagai individu terpisah
b.      Ibu mengambil tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi.
2.6  Aspek – Aspek Klinik Masa Nifas
1.      Suhu
Suhu badan dapat mengalami peningkatan setelah persalinan, tetapi tidak lebih dari 38°C. Bila terjadi peningkatan melebihi 38°C selama 2 hari berturut-turut, maka kemungkinan terjadi infeksi. kontraksi uterus yang diikuti HIS pengiring menimbulkan rasa nyeri-nyeri ikutan (after pain) terutama pada multipara, masa puerperium diikuti pengeluaran cairan sisa lapisan endomentrium serta sisa dari implantasi plasenta yang disebut lochea.
2.      Pengeluaran lochea
Pengeluaran lochea terdiri dari :
a.       Lochea rubra ( hari ke 1 – 2)
Terdiri dari darah segar bercampur sisa-sisa ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa vernix caseosa, lanugo, dan mekonium
b.      Lochea sanguinolenta (hari ke 3 – 7 )
Terdiri dari : darah bercampur lendir, warna kecoklatan.
c.       Lochea serosa ( hari ke 7 – 14)
Berwarna kekuningan.
d.      Lochea alba ( hari ke 14 – selesai masa nifas)
Hanya merupakan cairan putih, lochea yang berbau busuk dan terinfeksi disebut lochea purulent.
3.      Payudara
Pada payudara terjadi perubahan atropik yang terjadi pada organ pelvix, payudara mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi supresi payudara akan lebih menjadi besar, kencang dan lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi. Hari kedua post partum sejumlah colostrums cairan yang disekresi oleh payudara selama lima hari pertama setelah kelahiran bayi dapat diperas dari puting susu. Colostrums banyak mengandung protein, yang sebagian besar globulin dan lebih banyak mineral tapi gula dan lemak sedikit.
4.      Traktus Urinarius
Buang air sering sulit selama 24 jam pertama, karena mengalami kompresi antara kepala dan tulang pubis selama persalinan. Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormone estrogen yang bersifat menahan air akan mengalani penurunan yang mencolok, keadaan ini menyebabkan diuresis.
5.      System Kardiovarkuler
Normalnya selama beberapa hari pertama setelah kelahiran, Hb, Hematokrit dan hitungan eritrosit berfruktuasi sedang. Akan tetapi umumnya, jika kadar ini turun jauh di bawah tingkat yang ada tepat sebelum atau selama persalinan awal wanita tersebut kehilangan darah yang cukup banyak. Pada minggu pertama setelah kelahiran , volume darah kembali mendekati seperti jumlah darah waktu tidak hamil yang biasa, setelah 2 minggu perubahan ini kembali normal seperti keadaan tidak hamil.
2.7  Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :
1.      Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
2.      Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
3.      Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
4.      Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya. Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas.
2.8  Kunjungan Masa Nifas
Kunjungan masa nifas minimal dilakukan 4 kali selama masa nifas.
1.      Kunjungan I ( 6 – 8 jam post partum )
a.       Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri
b.      Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut
c.       Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri
d.      Pemberian ASI awal
e.       Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
f.       Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi
g.      Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik
2.      Kunjungan ke-2 ( 6 hari post partum )
a.       Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal
b.      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan
c.       Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup
d.      Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan
e.       Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui
f.       Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir
3.      Kunjungan ke-3 ( 2 minggu post partum )
Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
4.      Kunjungan ke-4 ( 6 minggu post partum )
a.       Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas
b.      Memberikan konseling KB secara dini
2.9  Perawatan Masa Nifas
Perawatan puerperium dilakukan dalam bentuk pengawasan sebagai berikut :
Rawat gabung ( roming in )
Perawatan ibu dan bayi dalam satu ruangan bersama-sama.
Tujuannya agar terbentuk ikatan antara ibu dan bayinya dalam bentuk kasih sayang ( bounding attachment ), sehingga ibu lebih banyak memperhatikan bayinya, memberikan ASI sehingga kelancaran pengeluaran ASI terjamin.
a.       Pemeriksaan umum meliputi kesadaran penderita, keluhan yang terjadi setelah persalinan.
b.      Pemeriksaan khusus meliputi pemeriksaan fisik, tekanan darah, nadi, suhu, respirasi, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus.
c.       Payudara
Perawatan payudara sudah dimulai sejak hamil sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi mulai disusui, isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oxitosin dikeluarkan oleh hipofisis. Produksi akan lebih banyak dan involusi uteri akan lebih sempurna.
d.      Lochea; lochea rubra, lochea sanguinolenta
e.       Luka jahitan
Luka jahitan apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda infeksi ( kalor, dolor, turbor, dan tumor ).
f.       Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring ke kiri dan kekanan serta diperbolehkan untuk duduk, atau pada hari ke – 4 dan ke- 5 diperbolehkan pulang.
g.      Diet
Makan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayuran dan buah-buahan.
h.      Miksi
Hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendiri secepatnya, paling tidak 4 jam setelah kelahiran. Bila sakit, kencing dikaterisasi.
i.        Defekasi
Buang air besar dapat dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila sulit bab dan terjadi obstipasi apabila bab keras dapat diberikan laksans per oral atau perektal. Jika belum biasa dilakukan klisma.
j.        Kebersihan diri
Anjurkan kepada ibu untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, membersihkan daerah kelamin dengan air dan sabun, dari vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang kemudian anus, kemudian mengganti pembalut setidaknya dua kali sehari, mencuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan kelamin.
k.      Menganjurkan pada ibu agar mengikuti KB sendini mungkin setelah 40 hari (16 minggu post partum)
l.        Imunisasi
Menganjurkan ibu untuk selalu membawa bayinya ke RS, PKM, posyandu atau dokter praktek untuk memperoleh imunisasi.
2.10          Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :
1.      Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.
2.      Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
3.      Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
4.      Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
5.      Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
6.      Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
7.      Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
8.      Memberikan asuhan secara professional.
2.11          Pendidikan Kesehatan Masa Nifas
1.      Gizi
Pendidikan kesehatan gizi untuk ibu menyusui antara lain: konsumsi tambahan 500 kalori setiap hari, makan dengan diet berimbang, minum sedikitnya 3 liter air setiap hari, tablet zat besi harus diminum selama 40 hari pasca bersalin dan minum kapsul vitamin A (200.000 unit).
2.      Kebersihan diri
Pendidikan kesehatan kebersihan diri untuk ibu nifas antara lain: menganjurkan kebersihan seluruh tubuh; mengajarkan ibu cara membersihkan daerah kelamin; menyarankan ibu untuk mengganti pembalut; menyarankan ibu untuk cuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin; jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, menyarankan untuk menghindari menyentuh daerah luka.
3.      Istirahat / tidur
Pendidikan kesehatan untuk ibu nifas dalam hal istirahat/tidur meliputi: menganjurkan ibu untuk cukup istirahat; menyarankan ibu untuk kembali ke kegiatan rumah secara perlahan-lahan; menjelaskan pada ibu bahwa kurang istirahat akan pengaruhi ibu dalam jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi serta diri sendiri.
4.      Pemberian ASI
Pendidikan kesehatan untuk ibu nifas dalam pemberian ASI sangat bermanfaat, karena pemberian ASI merupakan cara yang terbaik untuk ibu dan bayi. Oleh karena itu, berikan KIE tentang proses laktasi dan ASI; mengajarkan cara perawatan payudara.
5.      Latihan/ senam nifas
Pendidikan kesehatan tentang latihan/senam nifas meliputi: mendiskusikan pentingnya pengembalian otot-otot perut dan panggul kembali normal; menjelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari dapat bantu mempercepat pengembalian otot-otot perut dan panggul kembali normal.
6.      Hubungan seks dan Keluarga Berencana
Pendidikan kesehatan tentang seks dan keluarga berencana yaitu: hubungan seks dan KB dapat dilakukan saat darah nifas sudah berhenti dan ibu sudah merasa nyaman; keputusan untuk segera melakukan hubungan seks dan KB tergantung pada pasangan yang bersangkutan; berikan KIE tentang alat kontrasepsi KB.
7.      Tanda-tanda bahaya masa nifas
Pendidikan kesehatan tanda-tanda bahaya masa nifas meliputi: berikan pendidikan kesehatan tanda bahaya masa nifas untuk mendeteksi komplikasi selama masa nifas. Tanda bahaya berupa: perdarahan dan pengeluaran abnormal, sakit daerah abdomen/punggung, sakit kepala terus menerus/penglihatan kabur/nyeri ulu hati, bengkak pada ekstremitas, demam/muntah/sakit saat BAK, perubahan pada payudara, nyeri/kemerahan pada betis, depresi postpartum.



BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Masa nifas merupakan masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali seperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 – 8 minggu atau dalam agama islam disebut 40 hari, tahap- tahap masa nifas meliputi : puerpurium dini, puerpurium intermedial, remot puerpurium. Tujuan dari masa nifas yaitu untuk mengetahui kesejahtraan ibu dan bayi, baik dari kesehatan, kebersihan , nutrisi, pemberian ASI, tanda bahaya masa nifas, perdarahan, cara mencegah hipotermi pada bayi.
3.2  Kritik dan Saran
Dewasa ini penerapan asuhan pada ibu nifas sangat di perlukan karena sangat membantu ibu dalam menjalankan perannya sebagai seorang ibu ketika mengalami kesulitan dalam mengasuh bayinya. Serta, dengan adanya konseling masa nifas ibu menjadi lebih memahami betapa pentingnya menjaga kebersihan, pemenuhan nutrisi, waspada akan terjadinya kelainan-kelainan yang dapat membahayakan ibu dan bayinya. Selain itu juga dapat membantu mahasiswa dalam belajar tentang betapa pentingnya asuhan kebidanan untuk ibu nifas khususnya mahasiswa kebidanan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar